Dalam dunia layanan kesehatan, kecepatan dan akurasi dalam pengelolaan data laboratorium sangatlah penting. Setiap hari, laboratorium pada fasilitas kesehatan menangani banyak sampel pasien yang memerlukan pencatatan, pengolahan, serta pelaporan hasil secara sistematis.
Tanpa sistem pendukung yang memadai, tenaga kesehatan sering kali mengalami kendala dalam mengelola informasi pemeriksaan dengan baik. Sistem Informasi Laboratorium atau Laboratory Information System (LIS) adalah solusi untuk membantu fasilitas pelayanan kesehatan dalam mengotomatiskan proses pemantauan status laboratorium.
Dengan LIS, tenaga kesehatan dapat bekerja lebih efisien, mengurangi kesalahan pencatatan, serta mempercepat proses pelayanan kepada pasien. Jika laboratorium tidak menggunakan LIS, berbagai risiko dapat muncul yang berpotensi menghambat operasional dan kualitas layanan
Baca Juga: 8 Aktivitas Rekam Medis Yang Wajib Diterapkan di Fasilitias Kesehatan
Fasilitas Kesehatan Tanpa LIS, Apa Saja Resikonya?
Terdapat 5 risiko yang harus diketahui oleh fasilitas kesehatan jika tidak menggunakan LIS (Laboratory Information System). Simak selengkapnya di bawah ini.
1. Tingginya Risiko Kesalahan Pencatatan
Menurut sebuah artikel yang diterbitkan oleh KlikMedis, pencatatan manual meningkatkan kemungkinan kesalahan dalam memasukkan data pasien, hasil pemeriksaan, atau identifikasi sampel. Kesalahan ini dapat menyebabkan diagnosis yang keliru dan berdampak serius pada pengobatan pasien.
2. Proses yang Tidak Efisien dan Memakan Waktu
Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of Innovation Research and Knowledge menyatakan bahwa tanpa sistem informasi laboratorium, tenaga medis harus mengelola data pasien secara manual. Hal ini memakan waktu lebih lama dibandingkan dengan sistem otomatis, sehingga dapat memperlambat pelayanan dan meningkatkan beban kerja tenaga medis.
3. Sulitnya Melacak Status Pemeriksaan
Menurut sebuah artikel dalam Journal of Innovation Research and Knowledge, sistem manual sering kali membuat tenaga medis kesulitan dalam memantau status pemeriksaan laboratorium, mulai dari tahap registrasi hingga pelaporan hasil. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam memberikan hasil kepada pasien dan dokter.
4. Kurangnya Keamanan dan Integritas Data
Panduan dari Mettler Toledo menjelaskan cara mencapai Integritas data laboratorium dan risiko yang terkait dengan kurangnya keamanan data. Data laboratorium yang dicatat secara manual lebih rentan terhadap kehilangan, pencurian, atau manipulasi. Kesulitan dalam menyimpan serta mengakses data historis pasien juga dapat menghambat analisis medis yang lebih mendalam.
5. Sanksi Administratif RME & SATUSEHAT
Berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan No. HK.02.01/MENKES/1030/2023, fasilitas kesehatan yang tidak menerapkan sistem laboratorium terintegrasi berisiko mendapatkan rekomendasi pencabutan status akreditasi. Sanksi ini merupakan yang paling berat dibandingkan sanksi administratif lainnya dan akan diberikan kepada fasilitas kesehatan yang sama sekali tidak melakukan upaya integrasi data ke SATUSEHAT hingga 31 Juli 2024.
Fasilitas kesehatan yang belum menggunakan sistem informasi laboratorium menghadapi berbagai kendala yang dapat mengurangi efisiensi operasional serta membahayakan keselamatan pasien.
ADAMLIS hadir sebagai solusi LIS yang dapat membantu faskes dalam mengintegrasikan data laboratorium secara digital. Dengan sistem ini, fasilitas pelayanan kesehatan dapat mengurangi kesalahan pencatatan, meningkatkan efisiensi tenaga medis, serta memastikan pelayanan laboratorium yang lebih cepat dan akurat.
Sumber:
- Diakses pada 24 Maret 2025. Agnes Liana Sutrisno1, Dasrum Hidayat2, Rizki Adriansyah Rubini, 2024, EFEKTIVITAS DIGITALISASI PADA TRANSFORMASI LABORATORIUM KLINIK MELALUI SISTEM INFORMASI LABORATORIUM, Vol.4, No.7, https://bajangjournal.com/index.php/JIRK
- Diakses pada 24 Maret 2025. Cara Mencapai Integritas Data di Laboratorium | METTLER TOLEDO